Subhanallah...
Melihat perjuangan sahabatku ketika akan menyempurnakan dien-nya...
Ternyata semua itu perlu persiapan paripurna, kekuatan ruhyah, dan yang pasti memerlukan keyakinan yang kokoh pada-Nya akan segala ketetapan, jalan-jalan yang tak tersangka...
Rabu, Juni 10, 2009
Senin, Mei 25, 2009
12 KEBIASAAN PRODUKTIF YANG DIANJURKAN
1. Sediakan lebih banyak waktu untuk membaca dan sediakanlah waktu 15 menit untuk memikirkan dan mengendapkan bacaan anda.
Setiap Anda selesai membaca, berarti Anda telah menyerap suatu informasi dan akan meningkat ke tahap seleksi. Karena itu sisakanlah waktu 15 menit untuk memikirkan kembali apa yang Anda baca. Endapkan. Ingat-ingatlah bacaan yang pernah Anda baca sebelumnya dan hubungkan dengan yang barusan Anda baca hari ini. Begitu selalu; mengingat-ingat.
2.Luangkan waktu selama 20 menit dalam sehari untuk menyendiri dan merenung
Waktu paling tepat untuk merenung adalah sebelum subuh. Duduklah dengan rileks supaya nafas Anda keluar secara teratur. Pejamkan mata. Aturlah nafas. Tarik nafas dari hidung dan keluarkan melalui mulut. Ikuti pernafasan itu dengan pikiran Anda. Mulailah merenung, tentang apa saja. Efek dari kebiasaan ini adalah Anda akan terbiasa melakukan pemikiran vertikal, berpikir ke atas, juga akan meluaskan dan melegakan perasaan Anda serta ketenangan yang luar biasa. Ketenangan berarti Anda memiliki tingkat kontrol yang luar biasa terhadap diri Anda sendiri.
3.Pertahankan stamina spiritual Anda melalui ibadah mahdhah yang rutin
Standar ibadah rutin yang dianjurkan adalah:
- shalat berjamaah di masjid
- shalat sunat rawatib minimal 10 atau 12 rakaat sehari
- shalat witir 1 atau 3 rakaat
- Baca Al Quran ½ atau 1 juz atau berapa pun yang dapat Anda lakukan dalam sehari
- Bacalah dzikir di pagi dan sore hari, atau minimal 1 kali sehari
- Satu kali dalam sepekan lakukanlah khalwat dan dzikir yang lebih banyak dari hari-hari biasa, Anda perlu meluangkan waktu 1-2 jam untuk melakukan hal tersebut.
Jadikanlah kebiasaan ini sebagai standar untuk menciptakan siklus spiritual Anda.
4.Jagalah kondisi fisik Anda
- Makan secara teratur dan bergizi
- Istirahat yang cukup
- Olahraga ringan yang rutin
5.Tingkatkan apresiasi Anda melalui seni dan alam
Anda perlu membaca buku sastra, seni, dan puisi. Datanglah ke pameran lukisan atau pembacaan puisi dan cobalah berapresiasi. Anda juga perlu jalan-jalan melihat alam yang indah dan terlibat di dalamnya, merenungi alam, menghayati, dan meresapinya. Itu perlu dilakukan untuk menghaluskan perasaan Anda.
6.Buatlah rencana perjalanan wisata
Jika Anda melakukan kunjungan ke suatu daerah, Anda perlu membuat standar tentang apa yang perlu Anda ketahui dari daerah tersebut, aspek ekonomi, budayanya, seni, atau sosialnya. Jangan sekadar menikmati pemandangannya. sehingga setiap kali pergi, Anda akan mendapatkan pengetahuan baru.
7.Luaskanlah wilayah pergaulan Anda
Anda perlu memperkuat kemampuan komunikasi untuk memperluas jenjang usia teman atau sahabat Anda. Ada baiknya Anda memilih teman yang pengetahuannya lebih banyak dan lebih baik daripada Anda. Karena dari sanalah Anda akan menerima lebih banyak.
8.Tingkatkan kontrol terhadap pikiran-pikiran yang memenuhi benak Anda
Pikiran yang muncul dalam benak kita harus dikontrol secara ketat karena pikiran itulah yang mempengaruhi suasana jiwa dan melahirkan tindakan
9.Biasakanlah mencatat gagasan secara teratur
Suatu ide atau gagasan memerlukan proses pematangan. Dengan mencatat, berarti Anda telah melakukan proses pematangan ide atau gagasan dengan pengendapan dalam memori yang lebih kuat.
10.Biasakan lebih banyak diam dan mendengar daripada bicara
Jika ingin bicara sebaiknya Anda harus benar-benar yakin bahwa apa yang akan disampaikan adalah sesuatu yang sudah Anda pikirkan. Biasakanlah diam atau merenung dalam hidup, maka Anda akan produktif dalam hidup. Diam bukan berarti Anda sama sekali tidak berbicara. Tetapi diam dalam pengertian bahwa Anda hanya berbicara jika ada kebutuhan untuk itu.
11.Kontrol emosi agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh sanjungan dan kritikan
Anda harus pandai menstruktur ekspresi emosi secara bertahap. Pertama-tama gunakan mata. Orang yang langsung mengekspresikan emosi melalui tindakan fisik biasanya lemah. Kemudian melalui rona wajah secara keseluruhan, setelah itu baru mulai mengeluarkan suara, dan menggunakan fisik, jika dirasa perlu. Makin efektif pengaruh mata Anda, semakin Anda tidak membutuhkan fisik untuk mengekspresikan emosi.
12.Lakukan latihan pernapasan secara teratur
Tarik nafas melalui hidung, keluarkan melalui mulut; tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, kemudian turunkan ke dada, terus ke perut, naik kembali ke dada, turun lagi ke perut. Itu sudah cukup, asalkan rutin. Yang kita butuhkan bukan tenaga dalamnya, tapi keseimbangan peredaran darah dan kebugaran internal.
“Model Manusia Muslim, Pesona Abad 21” karya: H.M.Anis Matta, Lc
Setiap Anda selesai membaca, berarti Anda telah menyerap suatu informasi dan akan meningkat ke tahap seleksi. Karena itu sisakanlah waktu 15 menit untuk memikirkan kembali apa yang Anda baca. Endapkan. Ingat-ingatlah bacaan yang pernah Anda baca sebelumnya dan hubungkan dengan yang barusan Anda baca hari ini. Begitu selalu; mengingat-ingat.
2.Luangkan waktu selama 20 menit dalam sehari untuk menyendiri dan merenung
Waktu paling tepat untuk merenung adalah sebelum subuh. Duduklah dengan rileks supaya nafas Anda keluar secara teratur. Pejamkan mata. Aturlah nafas. Tarik nafas dari hidung dan keluarkan melalui mulut. Ikuti pernafasan itu dengan pikiran Anda. Mulailah merenung, tentang apa saja. Efek dari kebiasaan ini adalah Anda akan terbiasa melakukan pemikiran vertikal, berpikir ke atas, juga akan meluaskan dan melegakan perasaan Anda serta ketenangan yang luar biasa. Ketenangan berarti Anda memiliki tingkat kontrol yang luar biasa terhadap diri Anda sendiri.
3.Pertahankan stamina spiritual Anda melalui ibadah mahdhah yang rutin
Standar ibadah rutin yang dianjurkan adalah:
- shalat berjamaah di masjid
- shalat sunat rawatib minimal 10 atau 12 rakaat sehari
- shalat witir 1 atau 3 rakaat
- Baca Al Quran ½ atau 1 juz atau berapa pun yang dapat Anda lakukan dalam sehari
- Bacalah dzikir di pagi dan sore hari, atau minimal 1 kali sehari
- Satu kali dalam sepekan lakukanlah khalwat dan dzikir yang lebih banyak dari hari-hari biasa, Anda perlu meluangkan waktu 1-2 jam untuk melakukan hal tersebut.
Jadikanlah kebiasaan ini sebagai standar untuk menciptakan siklus spiritual Anda.
4.Jagalah kondisi fisik Anda
- Makan secara teratur dan bergizi
- Istirahat yang cukup
- Olahraga ringan yang rutin
5.Tingkatkan apresiasi Anda melalui seni dan alam
Anda perlu membaca buku sastra, seni, dan puisi. Datanglah ke pameran lukisan atau pembacaan puisi dan cobalah berapresiasi. Anda juga perlu jalan-jalan melihat alam yang indah dan terlibat di dalamnya, merenungi alam, menghayati, dan meresapinya. Itu perlu dilakukan untuk menghaluskan perasaan Anda.
6.Buatlah rencana perjalanan wisata
Jika Anda melakukan kunjungan ke suatu daerah, Anda perlu membuat standar tentang apa yang perlu Anda ketahui dari daerah tersebut, aspek ekonomi, budayanya, seni, atau sosialnya. Jangan sekadar menikmati pemandangannya. sehingga setiap kali pergi, Anda akan mendapatkan pengetahuan baru.
7.Luaskanlah wilayah pergaulan Anda
Anda perlu memperkuat kemampuan komunikasi untuk memperluas jenjang usia teman atau sahabat Anda. Ada baiknya Anda memilih teman yang pengetahuannya lebih banyak dan lebih baik daripada Anda. Karena dari sanalah Anda akan menerima lebih banyak.
8.Tingkatkan kontrol terhadap pikiran-pikiran yang memenuhi benak Anda
Pikiran yang muncul dalam benak kita harus dikontrol secara ketat karena pikiran itulah yang mempengaruhi suasana jiwa dan melahirkan tindakan
9.Biasakanlah mencatat gagasan secara teratur
Suatu ide atau gagasan memerlukan proses pematangan. Dengan mencatat, berarti Anda telah melakukan proses pematangan ide atau gagasan dengan pengendapan dalam memori yang lebih kuat.
10.Biasakan lebih banyak diam dan mendengar daripada bicara
Jika ingin bicara sebaiknya Anda harus benar-benar yakin bahwa apa yang akan disampaikan adalah sesuatu yang sudah Anda pikirkan. Biasakanlah diam atau merenung dalam hidup, maka Anda akan produktif dalam hidup. Diam bukan berarti Anda sama sekali tidak berbicara. Tetapi diam dalam pengertian bahwa Anda hanya berbicara jika ada kebutuhan untuk itu.
11.Kontrol emosi agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh sanjungan dan kritikan
Anda harus pandai menstruktur ekspresi emosi secara bertahap. Pertama-tama gunakan mata. Orang yang langsung mengekspresikan emosi melalui tindakan fisik biasanya lemah. Kemudian melalui rona wajah secara keseluruhan, setelah itu baru mulai mengeluarkan suara, dan menggunakan fisik, jika dirasa perlu. Makin efektif pengaruh mata Anda, semakin Anda tidak membutuhkan fisik untuk mengekspresikan emosi.
12.Lakukan latihan pernapasan secara teratur
Tarik nafas melalui hidung, keluarkan melalui mulut; tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, kemudian turunkan ke dada, terus ke perut, naik kembali ke dada, turun lagi ke perut. Itu sudah cukup, asalkan rutin. Yang kita butuhkan bukan tenaga dalamnya, tapi keseimbangan peredaran darah dan kebugaran internal.
“Model Manusia Muslim, Pesona Abad 21” karya: H.M.Anis Matta, Lc
Labels:
Islam
Kamis, Februari 26, 2009
Long time no see! Halah...
Dah lama banget niy ga buka-buka blog, maklum sejak lebaran ga bersentuhan langsung dengan internet sehari-hari... Kangen juga bisa OL tiap saat, heuheu...
Banyak banget yang terjadi beberapa bulan ini, tapi bingung uy mau nulis apa.
Yang jelas, tak disangka tak pula terimpikan, sekarang aku bergelut dengan anak-anak dan dunia pendidikan. Hohoho... Jauh dari yang dibayangkan pas lulus dulu. But, I'm happy to do that!
Lagi bingung pilih kuliah S2 niy...
Math? TI? Manajemen?
Mana yang paling sesuai dengan diriku?
Mana yang paling enjoy buat diriku?
Trus, mana yang paling murah n gampang cari beasiswa ya?
Dah lama banget niy ga buka-buka blog, maklum sejak lebaran ga bersentuhan langsung dengan internet sehari-hari... Kangen juga bisa OL tiap saat, heuheu...
Banyak banget yang terjadi beberapa bulan ini, tapi bingung uy mau nulis apa.
Yang jelas, tak disangka tak pula terimpikan, sekarang aku bergelut dengan anak-anak dan dunia pendidikan. Hohoho... Jauh dari yang dibayangkan pas lulus dulu. But, I'm happy to do that!
Lagi bingung pilih kuliah S2 niy...
Math? TI? Manajemen?
Mana yang paling sesuai dengan diriku?
Mana yang paling enjoy buat diriku?
Trus, mana yang paling murah n gampang cari beasiswa ya?
Sabtu, November 08, 2008
Ku diantara berbagai pilihan,,,
Ku diantara berbagai pertimbangan,,,
Ku diantara berbagai nafsu dan asa,,,
Kucoba mengarahkan diri pada jiwa, hati, dan qolbu ku...
Kuberjuang melawan ego, nafsu, dan dunia.
Semoga jalan yang kupilih adalah jalan ridhoMu.
Jalan terbaik untuk hidup dan kehidupanku.
Ku diantara berbagai pertimbangan,,,
Ku diantara berbagai nafsu dan asa,,,
Kucoba mengarahkan diri pada jiwa, hati, dan qolbu ku...
Kuberjuang melawan ego, nafsu, dan dunia.
Semoga jalan yang kupilih adalah jalan ridhoMu.
Jalan terbaik untuk hidup dan kehidupanku.
Senin, September 15, 2008
Tadi pagi sewaktu berangkat ke kantor, di Jl. Soekarno Hatta, ditengah kemacetan jalan terlebar di Bandung itu, ada seorang kakek menyebrang jalan dengan menggandeng dua anak kecil dengan pakaian lusuh. Biasa memang orang menyebrang jalan, tetapi saat kuteliti ternyata ada yang aneh dengan kakek tersebut, dia tidak beralas kaki alias nyeker. Walaupun saya berada di dalam angkot saya dapat melihat dengan jelas bahwa kakek itu benar-benar tanpa alas kaki karena ketika ia menginjak aspal jalanan yang panas (sebelumnya aspal tertutup oleh bayangan pohon) kakinya berjinjit dan sedikit melompat-lompat sambil tetap menggandeng kedua anak kecil dikedua tangannya, mungkin cucunya. Kubayangkan, pasti Sang Kakek kepanasan hingga bergaya seperti itu...
Awalnya kuberpikir, sebegitu miskin-kah kakek tersebut hingga sandal capit pun tidak bisa ia miliki? Saya pun mengaitkan dengan kasus yang sekarang lagi marak, penjualan daging dari sampah restoran. Huh... Sebegitu miskin-kah masyarakat Indonesia sehingga harus mencari nafkah dengan cara mengais-ngais sampah dan mengolahnya menjadi makanan untuk dijual? Astaghfirullah... Siapa yang salah? Saya mendengar hukuman bagi pelaku 15 tahun penjara, adil kah sementara koruptor kelas kakap saja hanya dipenjara 5 tahun? Saya yakin, pelaku berbuat demikian karena terhimpit dana untuk melangsungkan hidup. Kalau ditanya, mereka pasti tidak mau berbuat demikian jika kehidupan mereka layak. Mereka kreatif, tetapi kreatif yang salah dan tidak berpikir panjang apa akibatnya. Ya mungkin karena tingkat pendidikan mereka rendah juga... Jadi, kalau menurut saya hal ini adalah ketelodoran pemerintah yang tidak dapat mengurus rakyatnya dengan adil.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana menjadi pemimpin yang adil di negeri ini. Bagaimana Sang Pemimpin bisa tidur nyenyak, bisa tertawa bahagia, bisa makan berfoya-foya sedangakan rakyat yang merupakan amanahnya sebegitu sengsara? Hingga kini pun saya tak dapat membayangkan pertanggungjawaban diri sendiri dia akhirat nanti, diri yang notabene jiwa raga dan ruh yang kita atur. Terlalu banyak khilaf yang dilakukan... terlalu banyak kemaksiatan yang dilakukan... terlalu banyak kesia-siaan... Haah... Bagaimana dengan pertanggungjawaban Sang Pemimpin yang bertanggungjawab terhadap beribu bahkan berjuta individu? Yaa Allah, berikan petunjuk bagi pemimpin kami agar dapat berlaku adil...
Awalnya kuberpikir, sebegitu miskin-kah kakek tersebut hingga sandal capit pun tidak bisa ia miliki? Saya pun mengaitkan dengan kasus yang sekarang lagi marak, penjualan daging dari sampah restoran. Huh... Sebegitu miskin-kah masyarakat Indonesia sehingga harus mencari nafkah dengan cara mengais-ngais sampah dan mengolahnya menjadi makanan untuk dijual? Astaghfirullah... Siapa yang salah? Saya mendengar hukuman bagi pelaku 15 tahun penjara, adil kah sementara koruptor kelas kakap saja hanya dipenjara 5 tahun? Saya yakin, pelaku berbuat demikian karena terhimpit dana untuk melangsungkan hidup. Kalau ditanya, mereka pasti tidak mau berbuat demikian jika kehidupan mereka layak. Mereka kreatif, tetapi kreatif yang salah dan tidak berpikir panjang apa akibatnya. Ya mungkin karena tingkat pendidikan mereka rendah juga... Jadi, kalau menurut saya hal ini adalah ketelodoran pemerintah yang tidak dapat mengurus rakyatnya dengan adil.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana menjadi pemimpin yang adil di negeri ini. Bagaimana Sang Pemimpin bisa tidur nyenyak, bisa tertawa bahagia, bisa makan berfoya-foya sedangakan rakyat yang merupakan amanahnya sebegitu sengsara? Hingga kini pun saya tak dapat membayangkan pertanggungjawaban diri sendiri dia akhirat nanti, diri yang notabene jiwa raga dan ruh yang kita atur. Terlalu banyak khilaf yang dilakukan... terlalu banyak kemaksiatan yang dilakukan... terlalu banyak kesia-siaan... Haah... Bagaimana dengan pertanggungjawaban Sang Pemimpin yang bertanggungjawab terhadap beribu bahkan berjuta individu? Yaa Allah, berikan petunjuk bagi pemimpin kami agar dapat berlaku adil...
Labels:
Realita
Senin, September 08, 2008
Pelajaran dari cireng...
Kemarin malam dirumah diadakan buka bareng keluarga besar dari mama. Lumayan banyak, maklum keluarga besar.. Rame bgt apalagi banyak anak2 bayi, hihihi... Gemes... Tapi dek mufti-nya sakit, kasian liatnya... Pucat, memelas, merana gitu.. Kasian adikku itu.. Cepet sembuh ya mufti... Ini gambar mufti dan mawla, kakaknya... (pas lagi sakit gak tega motonya)



Yah berhubung yang dateng rame, so pasti nyiapin makanannya juga rame. Dari pagi keluaraga dah heboh, mulai dari belanja, motong-motong sayuran, sampai masak. Belum lagi beberes rumah yang baru aja kuriak, ehm... Lumayan memeras tenaga. Begini yah jadi ibu2 kalau mau ngundang orang? hehe...
Lalu, apa hubungannya dengan cireng?
Jadi begini, setelah berbuka dengan kurma, air putih, kue jajanan pasar, dan es kelapa muda ++, kita sholat maghrib dulu. Setelah itu, yang mau sholat tarawih ke masjid Baitul Wahdah. Stelah pulang baru kita makan. Tak diduga, ternyata sayur sop-nya ludes. Gatau memang karena enak atau kita buatnya terlalu dikit, hehe... Tapi yang jelas, anak2 kecil terlihat seneng banget makan sop dengan baso, mereka berlomba makan sendiri dengan gayanya yang konyol... Tumpah sana, tumpah sini, trus basonya jatoh... Jadi sendok yang masuk ke mulut sudah tak berisi... Lucu banget...
Nah, setelah makan, ada saudara yang ngeluarin cireng empat bungkus, cireng mentah yang belum digoreng. Dibenakku terpikir, waduh goreng cireng tuh biasanya ceprat-cepret minyaknya. Kudu hati-hati... Akhirnya aku goreng cireng itu, tentunya dengan minyak panas. Tiga bungkus pertama dapat dilewati dengan suka cita, maksudnya ternyata minyaknya baik-baik saja. Bahkan cirengnya sudah dinikmati saudara2 yang lain. Memang, Allah sesuai dengan prasangka hambanya, ketika gorengan bungkusan keempat, Sang Minyak mengamuk tiba-tiba, pletak... pletok... Terkenalah tangan kananku dengan minyak panas. Awalnya hanya lumayan menyakitkan, tetapi setelah lama, ehm... sakit beneran! Kuberi salep bioplacenton (gitu bukan ya nulisnya???) Setelah semuanya pulang, tanganku sudah menggelembung seperti ada cairan, sakit dan panas... Dan ternyata sakitnya bukan hanya ditempat terkena minyak, tapi merembet sampai ujung pergelangan tangan.
Pelajaran yang dapat diambil dari cireng tersebut. Pertama, tak terbayang aku bagaimana panasnya api neraka, sedangkan terkena sedikit minyak panas pun kulit telah melepuh... Astaghfirullah... Kedua, Allah memang sesuai dengan prasangka hambaNya. Ketika di awal aku terbersit minyaknya akan nyepret, jadi beneran deh kecepret. Jadi, berpikirlah yang baik-baik dan berbaik sangkalah... Ketiga, kulit itu tipis tetapi jika ada apa-apa dengannya akan menimbulkan efek sakit yang luar biasa. Namun, dia akan terus melakukan regenerasi sehingga akan tumbuh penggantinya. Jadi, ayat yang mengatakan bahwa Allah akan menyiksa orang-orang di neraka dengan membiarkannya api neraka menyakiti kulit lalu menggantinya kembali, lalu menyiksa kembali dan menggantinya lagi, begitu terus menerus berulang... Naudzubillahi min dzalik...
Labels:
Kisahku
Rabu, September 03, 2008
Jujur
"Berlakulah jujur di setiap saat karena jika sekali saja kau berbuat tidak jujur, maka kau akan mengulangi perbuatan tidak juur tersebut untuk menutupi ketidakjujuran sebelumnya."
Membaca kalimat diatas sepertinya siapa pun akan paham bahwa ketidakjujuran merupakan suatu efek domino bagi si pelaku. Ketika seseorang telah menceburkan dirinya untuk melakukan suatu kebohongan (lawan dari kejujuran), maka ia akan senantiasa melakukan kebohongan demi kebohongan untuk menutupi kebohongannya yang pertama. Sehingga dari satu buah kebohongan akan menimbulkan beribu-ribu kebohongan lainnya, tergantung kualitas kebohongan yang pertama. Ya, saya rasa setiap orang sudah memahami hal tersebut.
Biasanya, seseorang dan bahkan saya pun sebelum ini, menginterpretasikan kejujuran tersebut pada suatu tindakan yang dilakukan atau dinyatakan kepada orang lain seperti berkata jujur terhadap suatu hal kepada orang lain, mengakui perbuatan yang kita lakukan, dll. Sehingga pikiran saya mengatakan bahwa memang kejujuran itu mudah dilakukan oleh setiap orang asalkan saja diri orang tersebut memang bersih, dalam artian memang ia melakukan perbuatan yang benar dan kalaupun melakukan suatu kesalahan ia mengakui hal tersebut sebagai suatu kesalahan.
Ternyata, kejujuran tidaklah semudah itu. Kejujuran yang disampaikan diatas hanyalah sebuah bagian permukaan kecil dari suatu kejujuran. Kejujuran diri kita kepada orang lain itu hanyalah kejujuran lapis pertama yang mudah dilakukan oleh setiap orang. Lalu, kejujuran apa yang dapat dikategorikan sebagai tingkatan kejujuran yang lebih tinggi?
Menurut seorang ustadz yang tadi memberikan ceramah di kantor, kejujuran lapis kedua adalah kejujuran kepada benda dan harta. Mengapa demikian? Ketika kita sudah dapat memperlakukan benda dan harta, yang secara fisik saja merupakan benda mati, secara jujur maka tidak akan ada keraguan lagi terhadap kejujuran kita terhadap orang lain yang merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir dan mencari suatu hubungan kausalitas terhadap sesuatu. Kasarnya, "Masa sih ke benda mati saja jujur tapi ke manusia berbohong? Padahal benda mati kan ga akan pernah protes sedangkan manusia hobinya mencari kesalahan orang lain dan berprotes ria?"
Lalu, bagaimana kejujuran itu kita lakukan kepada benda dan harta? Ternyata kejujuran terhadap benda dan harta dilakukan dengan mempergunakan benda dan harta tersebut sesuai dengan kegunaannya. Misalkan, ketika kita memiliki pakaian yang memenuhi sebuah lemari dan ternyata mayoritas dari pakaian-pakaian tersebut tidak pernah lagi kita gunakan, maka kita telah memperlakukan pakaian-pakaian tersebut dengan tidak jujur karena telah menyebabkan pakaian tersebut kehilangan fungsinya. Jika memang pakaian tersebut kita sudah anggap tidak layak untuk digunakan karena memang sudah sobek dan dekil, maka menjadikannya sebagai kain lap atau kain pel adalah perbuatan jujur kita pada pakaian tersebut. Dengan begitu, kita mengalihkan fungsi dari pakaian menjadi kain lap sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Jika pakaian tersebut masih layak pakai, maka memberikannya kepada orang-orang yang memerlukan juga merupakan suatu bentuk kejujuran kepada barang.
Sepintas hal tersebut terlihat sangat mudah dilakukan. Tetapi coba berkaca-lah pada diri sendiri, "Sebanyak apa barang-barang yang kau miliki yang tidak pernah lagi kau gunakan?" Buku-buku, kertas, majalah, dan koran yang menumpuk... Sepatu, sandal, topi, aksesoris, aneka mainan, dan barang lain yang hanya memenuhi gudang dan rumah... Bahkan sampai pada botol, plastik, dan kardus bekas seringkali ditumpuk tak karuan. Hah!!!
Sedangkan terhadap harta, kejujuran yang kita lakukan dengan mencari dan mengumpulkan harta tersebut dengan cara dan untuk hal-hal yang halal, membelanjakan harta tersebut sesuai dengan kebutuhan, dan menyisihkan harta tersebut untuk zakat, infaq, sedekah, dll.
Manusia memang makhluk kikir yang takut sekali miskin dan sayang sekali pada harta benda. Oleh karena itulah maka kejujuran terhadap harta dan benda sulit dilakukan walaupun memang sangat bergantung pada kepribadian masing-masing individu.
Kemudian, puncak dari kejujuran tadi ialah ketika kita sudah dapat jujur kepada diri sendiri. Dalam artian, kita dapat jujur kepada hati, pikiran, nafsu, dan jiwa kita. Kejujuran ini dirasakan sangat berat karena yang mengetahui jujur tidaknya hanyalah diri kita sendiri. Dan walaupun kita mengetahui bahwa diri kita tidak jujur, kita pun akan sulit untuk memisahkan antara berusaha melakukan kejujuran dengan mengabaikan kejujuran tersebut. Bingung? Saya pun sebenarnya bingung... :) Saya mencoba memberikan sebuah contoh yang mudah -mudah2an tepat-, misalkan ketika di awal bulan Ramadhan ini kita berniat untuk melakukan ibadah yang terbaik dengan membuat suatu targetan. Sebenarnya diri kita mengetahui apakah diri kita ini jujur dalam membuatnya atau tidak, dalam artian apakah kita jujur merasakan bahwa kita sanggup melakukannya atau tidak -hal itu pasti terbesit dalam hati-. Karena bisa saja ketika membuatnya kita memang bertekad kuat akan berusaha untuk mencapai targetan tersebut, tetapi bisa juga kita membuatnya hanya sekadar menjadi patokan semangat kita diawal sehingga ketika mengerjakannya hanya akan sesuai dengan kemampuan dan waktu luang kita.Perlakuan yang kedua itulah bentuk ketidakjujuran. Berarti kita tidak jujur pada diri kita sendiri. Memang sulit untuk menyeimbangkan antara keinginan hati dan kemampuan pikiran dengan nafsu yang terkadang membuat kita hanya semangat pada awalnya. Maka, berusahalah untuk jujur pada diri sendiri...
Membaca kalimat diatas sepertinya siapa pun akan paham bahwa ketidakjujuran merupakan suatu efek domino bagi si pelaku. Ketika seseorang telah menceburkan dirinya untuk melakukan suatu kebohongan (lawan dari kejujuran), maka ia akan senantiasa melakukan kebohongan demi kebohongan untuk menutupi kebohongannya yang pertama. Sehingga dari satu buah kebohongan akan menimbulkan beribu-ribu kebohongan lainnya, tergantung kualitas kebohongan yang pertama. Ya, saya rasa setiap orang sudah memahami hal tersebut.
Biasanya, seseorang dan bahkan saya pun sebelum ini, menginterpretasikan kejujuran tersebut pada suatu tindakan yang dilakukan atau dinyatakan kepada orang lain seperti berkata jujur terhadap suatu hal kepada orang lain, mengakui perbuatan yang kita lakukan, dll. Sehingga pikiran saya mengatakan bahwa memang kejujuran itu mudah dilakukan oleh setiap orang asalkan saja diri orang tersebut memang bersih, dalam artian memang ia melakukan perbuatan yang benar dan kalaupun melakukan suatu kesalahan ia mengakui hal tersebut sebagai suatu kesalahan.
Ternyata, kejujuran tidaklah semudah itu. Kejujuran yang disampaikan diatas hanyalah sebuah bagian permukaan kecil dari suatu kejujuran. Kejujuran diri kita kepada orang lain itu hanyalah kejujuran lapis pertama yang mudah dilakukan oleh setiap orang. Lalu, kejujuran apa yang dapat dikategorikan sebagai tingkatan kejujuran yang lebih tinggi?
Menurut seorang ustadz yang tadi memberikan ceramah di kantor, kejujuran lapis kedua adalah kejujuran kepada benda dan harta. Mengapa demikian? Ketika kita sudah dapat memperlakukan benda dan harta, yang secara fisik saja merupakan benda mati, secara jujur maka tidak akan ada keraguan lagi terhadap kejujuran kita terhadap orang lain yang merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir dan mencari suatu hubungan kausalitas terhadap sesuatu. Kasarnya, "Masa sih ke benda mati saja jujur tapi ke manusia berbohong? Padahal benda mati kan ga akan pernah protes sedangkan manusia hobinya mencari kesalahan orang lain dan berprotes ria?"
Lalu, bagaimana kejujuran itu kita lakukan kepada benda dan harta? Ternyata kejujuran terhadap benda dan harta dilakukan dengan mempergunakan benda dan harta tersebut sesuai dengan kegunaannya. Misalkan, ketika kita memiliki pakaian yang memenuhi sebuah lemari dan ternyata mayoritas dari pakaian-pakaian tersebut tidak pernah lagi kita gunakan, maka kita telah memperlakukan pakaian-pakaian tersebut dengan tidak jujur karena telah menyebabkan pakaian tersebut kehilangan fungsinya. Jika memang pakaian tersebut kita sudah anggap tidak layak untuk digunakan karena memang sudah sobek dan dekil, maka menjadikannya sebagai kain lap atau kain pel adalah perbuatan jujur kita pada pakaian tersebut. Dengan begitu, kita mengalihkan fungsi dari pakaian menjadi kain lap sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Jika pakaian tersebut masih layak pakai, maka memberikannya kepada orang-orang yang memerlukan juga merupakan suatu bentuk kejujuran kepada barang.
Sepintas hal tersebut terlihat sangat mudah dilakukan. Tetapi coba berkaca-lah pada diri sendiri, "Sebanyak apa barang-barang yang kau miliki yang tidak pernah lagi kau gunakan?" Buku-buku, kertas, majalah, dan koran yang menumpuk... Sepatu, sandal, topi, aksesoris, aneka mainan, dan barang lain yang hanya memenuhi gudang dan rumah... Bahkan sampai pada botol, plastik, dan kardus bekas seringkali ditumpuk tak karuan. Hah!!!
Sedangkan terhadap harta, kejujuran yang kita lakukan dengan mencari dan mengumpulkan harta tersebut dengan cara dan untuk hal-hal yang halal, membelanjakan harta tersebut sesuai dengan kebutuhan, dan menyisihkan harta tersebut untuk zakat, infaq, sedekah, dll.
Manusia memang makhluk kikir yang takut sekali miskin dan sayang sekali pada harta benda. Oleh karena itulah maka kejujuran terhadap harta dan benda sulit dilakukan walaupun memang sangat bergantung pada kepribadian masing-masing individu.
Kemudian, puncak dari kejujuran tadi ialah ketika kita sudah dapat jujur kepada diri sendiri. Dalam artian, kita dapat jujur kepada hati, pikiran, nafsu, dan jiwa kita. Kejujuran ini dirasakan sangat berat karena yang mengetahui jujur tidaknya hanyalah diri kita sendiri. Dan walaupun kita mengetahui bahwa diri kita tidak jujur, kita pun akan sulit untuk memisahkan antara berusaha melakukan kejujuran dengan mengabaikan kejujuran tersebut. Bingung? Saya pun sebenarnya bingung... :) Saya mencoba memberikan sebuah contoh yang mudah -mudah2an tepat-, misalkan ketika di awal bulan Ramadhan ini kita berniat untuk melakukan ibadah yang terbaik dengan membuat suatu targetan. Sebenarnya diri kita mengetahui apakah diri kita ini jujur dalam membuatnya atau tidak, dalam artian apakah kita jujur merasakan bahwa kita sanggup melakukannya atau tidak -hal itu pasti terbesit dalam hati-. Karena bisa saja ketika membuatnya kita memang bertekad kuat akan berusaha untuk mencapai targetan tersebut, tetapi bisa juga kita membuatnya hanya sekadar menjadi patokan semangat kita diawal sehingga ketika mengerjakannya hanya akan sesuai dengan kemampuan dan waktu luang kita.Perlakuan yang kedua itulah bentuk ketidakjujuran. Berarti kita tidak jujur pada diri kita sendiri. Memang sulit untuk menyeimbangkan antara keinginan hati dan kemampuan pikiran dengan nafsu yang terkadang membuat kita hanya semangat pada awalnya. Maka, berusahalah untuk jujur pada diri sendiri...
-yang sedang belajar jujur-
Labels:
Islam
Senin, September 01, 2008
Ancaman Bagi Orang Yang Tidak Berpuasa Di Bulan Ramadlan Tanpa 'Udzur Syar'i
عن أبي هُرَيْرَةَ قالَ: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم "مَنْ أفْطَرَ يَوْماً مِنْ رَمَضَانَ منْ غَيْرِ رُخْصَةٍ ولا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِ عنهُ صَوْمُ الدّهْرِ كُلّهِ وإنْ صَامَهُ". رواه الترمذي
Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadlan tanpa mendapatkan rukhshoh (keringanan) dan juga tanpa adanya sakit, maka seluruh puasa yang dilakukannya selama setahun tidak dapat menimpalinya (membayarnya) ." (HR.at-Turmudziy)
عن أبي هُرَيْرَةَ قالَ: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم "مَنْ أفْطَرَ يَوْماً مِنْ رَمَضَانَ منْ غَيْرِ عِلَّةٍ ولا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدّهْرِ كُلّهِ وإنْ صَامَهُ" . ذكره البخاري معلقا
Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadlan tanpa adanya alasan ('udzur) ataupun sakit, maka seluruh puasa yang dilakukannya selama setahun tidak dapat menimpalinya (membayarnya) ." (HR.al-Bukhariy secara Ta'liq)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata, "Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadlan tanpa adanya alasan ('udzur), maka tidak ada artinya puasa selama setahun hingga dia bertemu dengan Allah; jika Dia menghendaki, maka Dia akan mengampuninya dan bila Dia menghendaki, maka Dia akan menyiksanya. " (Lihat, Fathul Bâriy, Jld.IV, h.161)
Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahiliy radliyallâhu 'anhu, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, 'Tatkala aku sedang tidur, tiba-tiba datang dua orang kepadaku, lantas meraih kedua lengan atasku, kemudian membawaku pergi ke bukit yang terjal. Keduanya berkata, 'Naiklah.' Lalu aku berkata, 'Aku tak sanggup.' Keduanya berkata lagi, 'Kami akan membimbingmu supaya lancar.' Maka akupun naik hingga bilamana aku sudah berada di puncak gunung, tiba-tiba terdengar suara-suara melengking, maka akupun berkata, 'Suara-suara apa ini?.' Mereka bekata, 'Ini teriakan penghuni neraka.' Kemudian keduanya membawaku pergi, tiba-tiba aku sudah berada di tengah suatu kaum yang kondisinya bergelantungan pada urat keting (urat diatas tumit) mereka, sudut-sudut mulut (tulang rahang bawah) mereka terbelah sehingga mengucurkan darah.' Aku bertanya, 'Siapa mereka itu?.' mereka menjawab, 'Merekalah orang-orang yang berbuka (tidak berpuasa) sebelum dihalalkannya puasa mereka (sebelum waktu berbuka).' " . (HR.an-Nasa` iy, di dalam as-Sunan al-Kubro sebagaimana di dalam buku Tuhfatul Asyrâf, Jld.IV, h.166; Ibn Hibban di dalam kitab Zawâ`id-nya, No.1800; al-Hâkim, Jld.I, h.430 . Dan sanadnya adalah Shahîh. Lihat juga, Kitab Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb, No.995, Jld.I, h.420)
Demikianlah gambaran yang amat mengenaskan dari azab yang kelak akan dialami oleh mereka-mereka yang melanggar kehormatan bulan suci Ramadlan dan mengejek syi'ar yang suci ini dengan tidak berpuasa di siang bolong secara terang-terangan. Sungguh, mereka akan digantung dari ujung kaki mereka layaknya binatang yang digantung saat akan disembelih dimana posisi kakinya diatas dan kepala di bawah. Ditambah lagi, sudut-sudut mulut mereka juga akan terbelah dan mengucurkan darah. Kondisi tersebut benar-benar menjadi gambaran yang sadis dan mengenaskan.
Apakah setelah itu, mereka yang telah berbuat zhalim terhadap diri mereka sendiri, melanggar kehormatan bulan yang diberkahi ini, tidak mengindahkan kehormatan waktu dan hak Sang Khaliq dan menghancurkan rukun ke empat dari rukun Islam tanpa mau ambil peduli untuk apa mereka sebenarnya diciptakan tersebut, mau menjadikannya sebagai pelajaran berharga?
UCAPAN PARA ULAMA
Sementara para ulama menyatakan bahwa orang yang berbuka (tidak berpuasa) pada bulan Ramadlan tanpa 'udzur, maka dia telah melakukan salah satu dari perbuatan dosa besar (Kaba`ir).
Berikut beberapa ucapan para ulama:
1. Imam adz-Dzahabiy berkata, "Dosa besar ke-enam adalah orang yang berbuka pada akhir Ramadlan tanpa 'udzur.." (al-Kabâ`ir:49)
2. Syaikhul Islam, Ibn Taimiyyah berkata, "Bilamana orang yang muntah dianggap sebagai orang yang diterima 'udzurnya, maka apa yang dilakukannya adalah boleh hukumnya. Dengan begitu, dia termasuk kategori orang-orang sakit yang harus mengqadla puasa dan tidak termasuk pelaku dosa-dosa besar yang mereka itu berbuka (di bulan Ramadlan) tanpa 'udzur…" (Majmu' Fatawa:XXV/225)
3. al-Quffâl berkata, "…Dan barangsiapa yang berbuka di bulan Ramadlan selain karena jima' tanpa 'udzur, maka wajib baginya mengqadla dan menahan diri dari sisa harinya. Dalam hal ini, dia tidak membayar kaffarat (tebusan) namun dia dita'zir oleh penguasa (diberi sanksi yang pas menurut mashlahat yang dipandangnya) . Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Daud azh-Zhahiriy…" (Hilyah al-Awliyâ`:III/ 198)
4. Syaikh Abu Bakar al-Jazâ`iriy sebagai yang dinukilnya dari Imam adz-Dzahabiy berkata, "…Sebagai yang sudah menjadi ketetapan bagi kaum Mukminin bahwa barangsiapa yang meningglkan puasa bulan Ramadlan bukan dikarenakan sakit atau 'udzur maka hal itu lebih jelek daripada pelaku zina dan penenggak khamar bahkan mereka meragukan keislamannya dan menganggapnya sebagai Zindiq atau penyeleweng…" (Risalah Ramadlan:66)
Seruan
Sesungguhnya orang-orang yang dengan terang-terangan berbuka (tidak berpuasa) di siang bolong pada bulan Ramadlan sementara kondisi mereka sangat sehat dan tidak ada 'udzur yang memberikan legitimasi pada mereka untuk tidak berpuasa adalah orang-orang yang sudah kehilangan rasa malu terhadap Allah dan rasa takut terhadap para hamba-Nya, otak-otak mereka telah dipenuhi oleh pembangkangan, hati mereka telah dipermainkan dan disentuh oleh syaithan dan gelimang dosa.
Mereka tidak menyadari bahwa dengan tidak berpuasa tersebut, berarti mereka telah menghancurkan salah satu dari rukun-rukun dien ini. Mereka adalah orang-orang yang fasiq, kurang iman dan rendah derajat. Kaum Muslimin akan memandang mereka dengan pandangan hina. Mereka termasuk para pelaku maksiat yang besar dan kelak di hari Kiamat, siksaan Allah Yang Maha Perkasa Lagi Kuasa telah menunggu mereka.
Semoga Allah menjauhkan kita dari hal itu, nau'ûdzu billâhi min dzâlik. Wallahu a'lam.
(Diambil dari buku ash-Syiyâm; Ahkâm Wa Adâb karyaDiriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata, "Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadlan tanpa adanya alasan ('udzur), maka tidak ada artinya puasa selama setahun hingga dia bertemu dengan Allah; jika Dia menghendaki, maka Dia akan mengampuninya dan bila Dia menghendaki, maka Dia akan menyiksanya. " (Lihat, Fathul Bâriy, Jld.IV, h.161)
Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahiliy radliyallâhu 'anhu, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, 'Tatkala aku sedang tidur, tiba-tiba datang dua orang kepadaku, lantas meraih kedua lengan atasku, kemudian membawaku pergi ke bukit yang terjal. Keduanya berkata, 'Naiklah.' Lalu aku berkata, 'Aku tak sanggup.' Keduanya berkata lagi, 'Kami akan membimbingmu supaya lancar.' Maka akupun naik hingga bilamana aku sudah berada di puncak gunung, tiba-tiba terdengar suara-suara melengking, maka akupun berkata, 'Suara-suara apa ini?.' Mereka bekata, 'Ini teriakan penghuni neraka.' Kemudian keduanya membawaku pergi, tiba-tiba aku sudah berada di tengah suatu kaum yang kondisinya bergelantungan pada urat keting (urat diatas tumit) mereka, sudut-sudut mulut (tulang rahang bawah) mereka terbelah sehingga mengucurkan darah.' Aku bertanya, 'Siapa mereka itu?.' mereka menjawab, 'Merekalah orang-orang yang berbuka (tidak berpuasa) sebelum dihalalkannya puasa mereka (sebelum waktu berbuka).' " . (HR.an-Nasa` iy, di dalam as-Sunan al-Kubro sebagaimana di dalam buku Tuhfatul Asyrâf, Jld.IV, h.166; Ibn Hibban di dalam kitab Zawâ`id-nya, No.1800; al-Hâkim, Jld.I, h.430 . Dan sanadnya adalah Shahîh. Lihat juga, Kitab Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb, No.995, Jld.I, h.420)
Demikianlah gambaran yang amat mengenaskan dari azab yang kelak akan dialami oleh mereka-mereka yang melanggar kehormatan bulan suci Ramadlan dan mengejek syi'ar yang suci ini dengan tidak berpuasa di siang bolong secara terang-terangan. Sungguh, mereka akan digantung dari ujung kaki mereka layaknya binatang yang digantung saat akan disembelih dimana posisi kakinya diatas dan kepala di bawah. Ditambah lagi, sudut-sudut mulut mereka juga akan terbelah dan mengucurkan darah. Kondisi tersebut benar-benar menjadi gambaran yang sadis dan mengenaskan.
Apakah setelah itu, mereka yang telah berbuat zhalim terhadap diri mereka sendiri, melanggar kehormatan bulan yang diberkahi ini, tidak mengindahkan kehormatan waktu dan hak Sang Khaliq dan menghancurkan rukun ke empat dari rukun Islam tanpa mau ambil peduli untuk apa mereka sebenarnya diciptakan tersebut, mau menjadikannya sebagai pelajaran berharga?
UCAPAN PARA ULAMA
Sementara para ulama menyatakan bahwa orang yang berbuka (tidak berpuasa) pada bulan Ramadlan tanpa 'udzur, maka dia telah melakukan salah satu dari perbuatan dosa besar (Kaba`ir).
Berikut beberapa ucapan para ulama:
1. Imam adz-Dzahabiy berkata, "Dosa besar ke-enam adalah orang yang berbuka pada akhir Ramadlan tanpa 'udzur.." (al-Kabâ`ir:49)
2. Syaikhul Islam, Ibn Taimiyyah berkata, "Bilamana orang yang muntah dianggap sebagai orang yang diterima 'udzurnya, maka apa yang dilakukannya adalah boleh hukumnya. Dengan begitu, dia termasuk kategori orang-orang sakit yang harus mengqadla puasa dan tidak termasuk pelaku dosa-dosa besar yang mereka itu berbuka (di bulan Ramadlan) tanpa 'udzur…" (Majmu' Fatawa:XXV/225)
3. al-Quffâl berkata, "…Dan barangsiapa yang berbuka di bulan Ramadlan selain karena jima' tanpa 'udzur, maka wajib baginya mengqadla dan menahan diri dari sisa harinya. Dalam hal ini, dia tidak membayar kaffarat (tebusan) namun dia dita'zir oleh penguasa (diberi sanksi yang pas menurut mashlahat yang dipandangnya) . Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Daud azh-Zhahiriy…" (Hilyah al-Awliyâ`:III/ 198)
4. Syaikh Abu Bakar al-Jazâ`iriy sebagai yang dinukilnya dari Imam adz-Dzahabiy berkata, "…Sebagai yang sudah menjadi ketetapan bagi kaum Mukminin bahwa barangsiapa yang meningglkan puasa bulan Ramadlan bukan dikarenakan sakit atau 'udzur maka hal itu lebih jelek daripada pelaku zina dan penenggak khamar bahkan mereka meragukan keislamannya dan menganggapnya sebagai Zindiq atau penyeleweng…" (Risalah Ramadlan:66)
Seruan
Sesungguhnya orang-orang yang dengan terang-terangan berbuka (tidak berpuasa) di siang bolong pada bulan Ramadlan sementara kondisi mereka sangat sehat dan tidak ada 'udzur yang memberikan legitimasi pada mereka untuk tidak berpuasa adalah orang-orang yang sudah kehilangan rasa malu terhadap Allah dan rasa takut terhadap para hamba-Nya, otak-otak mereka telah dipenuhi oleh pembangkangan, hati mereka telah dipermainkan dan disentuh oleh syaithan dan gelimang dosa.
Mereka tidak menyadari bahwa dengan tidak berpuasa tersebut, berarti mereka telah menghancurkan salah satu dari rukun-rukun dien ini. Mereka adalah orang-orang yang fasiq, kurang iman dan rendah derajat. Kaum Muslimin akan memandang mereka dengan pandangan hina. Mereka termasuk para pelaku maksiat yang besar dan kelak di hari Kiamat, siksaan Allah Yang Maha Perkasa Lagi Kuasa telah menunggu mereka.
Semoga Allah menjauhkan kita dari hal itu, nau'ûdzu billâhi min dzâlik. Wallahu a'lam.
Prof.Dr.Syaikh 'Abdullah ath-Thayyar, h.109-111)
Labels:
Islam
Langgan:
Entri (Atom)

